Teman-teman, kita sudah sampai di era baru industri musik.
Era dimana label rekaman melancarkan strategi terkejam dalam sejarah
industri musik di tanahair: Menguasai artis dengan jalan mengelola
karir mereka. Istilah populernya mereka melakukan ekspansi bisnis
dengan cara membuka divisi Manajemen Artis di label rekaman.
Gue adalah salah seorang yang nggak setuju dengan berdirinya
manajemen artis dalam sebuah label rekaman. Gue punya argumentasi
yang kuat untuk ini. Label rekaman itu INKOMPETEN untuk urusan
manajemen artis dan nantinya gue yakin malah bakal merusak tatanan
industri musik yang selama ini otonom dari tiga belah pihak terkait
(artis, manajemen, label).
Bisnis utama label rekaman adalah jualan kaset, CD, RBT, dsb. Semua
yang berhubungan dengan rekaman musik. Dari nama saja sudah jelas:
Perusahaan Rekaman! Akhirnya ketika mereka membuka divisi baru
(Artis Manajemen) gampang ditebak kalo kerepotan dan berbagai
kebodohan dalam urusan manajerial artis bakal terjadi di sana. Mulai
dari SDM yang mereka miliki butut hingga praktek-praktek jualan band
yang obscure. Karena mereka masih “belajar” maka jangan cari
profesionalisme manajemen artis di dalam major label
Conflict of interest tingkat tinggi juga bakal terjadi di dalam band
ketika manajernya bingung harus membela kepentingan yang mana
nantinya (artis atau label?). Secara manajer lama kemungkinan besar
bakal “digaji” oleh label dan nanti hanya akan menjadi sub-ordinat
dari manajemen baru.
Gara-gara pembajakan musik yang makin gokil (bahkan konon direstui
negara) dan menurun drastisnya penjualan album fisikal, akhirnya
mereka mengambil jalan pintas mendirikan manajemen artis yang
ujungnya lagi-lagi merugikan artis nantinya. Label bukannya bersatu
memerangi pembajakan namun malah berkomplot untuk mengeksploitasi
artis habis-habisan agar mereka bisa terhindar dari kebangkrutan.
Biarkan artis yang bangkrut, tapi jangan labelnya! Kira-kira
kasarnya begitu. Sekali lagi artis adalah obyek penderita nomor satu
nantinya.
Setelah kecilnya nilai royalti mekanikal di Indonesia, statistik
penjualan album yang manipulatif, dilarangnya artis bergabung dengan
KCI oleh ASIRI (atau diminta keluar dari KCI jika telah bergabung)
maka penindasan terhadap artis akan datang lebih kejam lagi
nantinya. Detailnya kira-kira seperti di bawah ini.
Ini prediksi yang bakal terjadi di masa depan dengan “artis-artis
baru” yang kontrak dengan major label yang memiliki divisi manajemen
artis:
- Masa depan karir band baru akan tergantung dari label rekaman,
bukan berada di tangan manajemen lama atau artisnya sendiri.
- Tumpulnya peran dan kontrol manajemen artis yang lama dalam
membela kepentingan-kepentingan artis. Manajemen lama akan menjadi
sub-ordinat dari label dan kemudian hanya berfungsi sebagai baby-
sitting artis. Semua fungsi kontrol dan decision making artis akan
terpusat kepada label sebagai investor. Manajer lama tidak punya hak
karena mereka tidak invest apapun. Kemungkinan besar mereka akan
disingkirkan dengan jalan “pembusukan “. Mempengaruhi artis dengan
iming-iming kesuksesan di industri musik.
- Kontrol yang sangat ketat dalam proses kreatif dan menciptakan
musik berakibat hilangnya idealisme artistik & estetis karena artis
hanya akan diperbolehkan menciptakan musik-musik yang tengah disukai
oleh pasar yang tidak cerdas. Sejuta band mirip Kangen Band
diprediksi akan membajir di industri musik kita
- Berkurang secara signifikannya pemasukan bagi artis karena mereka
harus share profit selain dari royalti mechanical, live show,
merchandise, touring, advertising, publishing dan sebagainya. Hal
yang belum pernah terjadi sebelumya. It’s a very big, big, big LOSS,
ladies & gentleman!
- Buruknya lagi, kalau artis baru nanti terlalu blo’on, maka tingkat
eksploitasi akan diperkejam lagi hingga nama band dipatenkan oleh
label, internal band akan dikontrol langsung pihak label,
penggelapan royalty, sales report yang culas hingga berlakunya
sistem bodoh dengan label menggaji para artis. Jika selama ini kita
memandang artis sebagai seniman dengan talenta yang tidak ternilai
maka selanjutnya kita akan dipaksa memposisikan artis tak lebih
dari “kuli musikal.”
Strategi ” mega-eksploitatif” ini memang hanya diberlakukan bagi
band-band baru yang ditawarkan kontrak rekaman oleh major record
company. Contoh paling konkret misalnya terjadi pada Nidji, Letto
(Musica), The Changcuters, St. Loco, Vagetoz (SonyBMG Indonesia),
Kangen Band (Warner), Tahta (EMI), dsb. Semuanya memang memiliki
deal-deal yang berbeda satu sama lain. Maksudnya tingkat
eksploitasinya berbeda-beda. Ada yang parah dan ada yang parah
banget. Gue sempat mendengar ada satu band yang dipotong komisinya
sebesar 45% (gross) setelah join dengan manajemen artis major label.
Band baru yang hadir dengan strategi yang brilyan dan sangat
berhasil di awal karirnya adalah Samsons yang melakukan master
licensing deal dengan Universal Music Indonesia . Mereka membiayai
sendiri produksi rekaman dan kemudian menjalin kerjasama promosi &
distribusi dengan major label selanjutnya. Ke depannya deal seperti
ini nantinya akan menjadi “favorit” para manajer artis (tentu bila
mampu).
Pastinya, label rekaman tidak akan menawarkan strategi keji ini
kepada band-band lawas/senior karena bargaining position mereka
sudah sangat kuat. Selain brand mereka sudah dikenal luas,
pengalaman dan pengetahuan bisnis musik yang sangat memadai, fanbase
yang kuat juga sangat berpengaruh terhadap positioning mereka di
industri musik. Label sendiri kadangkala melihat artis-artis lawas
sebagai “uzur,” “grace period” atau sudah rendah “selling
point”nya.
Itulah kenapa akhirnya label rekaman besar hanya akan memburu band-
band/artis baru yang masih hijau, yang minim pengetahuan bisnis
musiknya dan belum paham peta/konstalasi industri musik lokal.
Selain bakal gampang dibodohi dengan kontrak yang sangat
eksploitatif mereka juga akan dipengaruhi iming-iming “fame &
fortune” di industri musik. Padahal belum tentu bakal “booming”
juga
Jika Anda saat ini berada di sebuah band baru dan ditawarkan kontrak
rekaman dari major label maka jangan terburu-buru tergiur dulu! Imej
bergengsi major label tidak akan banyak memberi keuntungan. Yang
terpenting adalah deal-nya, bukan masalah major atau indie label-
nya. Pelajari dulu dengan seksama kontraknya, undang pengacara
kenalan Anda untuk membedahnya, konsultasi dengan band-band lain
yang sudah berpengalaman.
Sudah banyak kasus terjadi sebelumnya. Band-band baru menandatangani
kontrak rekaman jangka panjang dengan major label dan akhirnya
menyesal. Ketika bandnya booming dan banyak menerima job manggung
beberapa ada yang melakukan “resistensi” konyol dengan tidak
menyetorkan komisi kepada label sesuai perjanjian. Menjadi konyol
karena setelah kontrak rekaman itu ditandatangani maka konsekuensi-
konsekuensi di belakangnya seharusnya sudah kita tahu sejak awal.
Oleh karena itu jangan ikut mengantri di barisan kebodohan.
Empowered yourself!
Cara kerja label juga akan lebih mirip jarum suntik nantinya. Sekali
pakai langsung buang, disposable. Artis-artis baru tidak akan ada
yang didevelop untuk panjang umur karirnya, mereka hanya akan
disupport demi “popularitas maksimal dua atau tiga album saja!”
Setelah booming besar dan untung besar, siap-siap menuju ladang
pembantaian. Setelah dibantai maka dicari lagi talenta baru. Kalau
kita jeli fenomena seperti ini sebenarnya telah terjadi sekarang ini
di Indonesia.
Label besar sejatinya nanti hanya akan menjadi pusat manufaktur
band!
Kita tidak akan menemukan lagi band-band awet populer
seperti Slank, Gigi, Netral, Dewa19, Naif di masa depan nantinya.
Semuanya hanya akan “easy come, easy go!”
Tapi kalo ada yang bilang label membuka manajemen artis bakal
membunuh pula profesi manajer artis individual/otonom, gue sama
sekali nggak setuju. Gue justru nggak melihat kalau manajer-manajer
artis yang independen itu bakal tergusur atau kehilangan pekerjaan.
Ini analisa yang terlalu sembrono. It’s not the end of the world as
we know it
Negara ini punya lebih dari 200 juta penduduk. Yang
pengen jadi artis, bikin band dan gilpop (gila popularitas) setiap
harinya pasti bertambah ribuan. Justru segudang talenta ini menjadi
market yang sangat potensial bagi manajer-manajer artis untuk
dikelola.
Manajemen artis yang individual atau berbentuk firma masih akan
sangat dibutuhkan dan berperan penting di sini nantinya.
Perkembangan teknologi yang gokil belakangan masih menjanjikan masa
depan yang cerah buat band-band yang tidak dikontrak major label
lokal/internasional a.k.a indie. Hadirnya MySpace, YouTube,
Multiply, Friendster, Ning dan perangkat musik digital lainnya
sangat memungkinkan untuk mencetak artis besar via jalur alternatif.
The Upstairs sendiri udah membuktikan hal ini sebelumnya.
Apalagi tren terbaru di Amrik dan Inggris sekarang rata-rata artis
bernama besar malas memperpanjang kontrak rekaman mereka dan memilih
hengkang dari major label. Prince, Madonna, Radiohead, NIN adalah
para pelopor “gerakan kembali ke indie” ini. Mereka justru
mempercayakan manajemen artis mereka yang independen untuk berfungsi
pula sebagai “label rekaman”. Cepat atau lambat gue pikir band-band
besar di Indonesia akan mengambil langkah yang sama nantinya. Slank,
Naif dan Netral malah sudah membuktikannya….. dan mereka cukup
berhasil! Salute!
Masih adakah jalan lain? Ada banget! Di dalam negeri sendiri sudah
ada yang mempelopori “penggratisan musik.” Album rekaman kini telah
berubah fungsi menjadi sebuah “marketing tool” untuk menjaring job
manggung. Mungkin inilah masa dimana musisi tidak lagi memikirkan
royalti rekaman! Bisa jadi kalau teknologi kloning nanti sudah
semakin sempurna maka ini berarti ancaman besar!
Koil menjadi pionir dengan menjalin kerjasama dengan majalah musik
untuk mendistribusikan album terbarunya (Blacklight Shines On)
secara gratis. Selain itu mereka juga memberi akses download album
gratis via website/mailing list musik. Ide Koil ini memang tergolong
baru walau sebenarnya tidak original juga. Prince bulan Juni lalu
lebih dulu mengedarkan 3 juta keping album terbarunya secara gratis
via Tabloid Sun di Inggris.
Memang perlu dipelajari lebih lanjut lagi apakah
strategi “penggratisan musik” ini nantinya bakal merugikan atau
malah menguntungkan. Yang pasti band-band baru tidak akan
memiliki “keistimewaan” seperti Koil jika mau mengambil strategi
serupa.
Yang menarik lagi, sempat ada pertanyaan di bawah ini yang datang ke
saya ketika jadi pembicara di sebuah seminar musik di kampus UI
beberapa waktu lalu:
Bagaimana dengan marak terjadinya kasus manager-manager artis
individual/otonom yang tidak profesional atau bermasalah? Katakan
saja menipu artisnya, melakukan penggelapan keuangan, dsb.
Nah, untuk point di atas sebenernya gue jamin nggak akan terjadi
lagi kalau di dalam manajemen artis kita sudah DITERTIBKAN secara
organisasi dan administrasinya. Mari kita lihat apakah kita sudah
memiliki kontrak tertulis antara manajemen dengan artis yang
mengatur kerjasama profesional ini? Apakah peran, hak & kewajiban
masing-masing pihak sudah di jabarkan secara rinci? Pemisahan fungsi
manajemen sudah diberlakukan? Apakah antar personel band kita sudah
memiliki kontrak internal pula? Kalo semua konsolidasi internal ini
beres gue jamin masalah-masalah di atas nggak bakal terulang lagi di
masa depan.
Oke, sementara begitu aja pandangan gue tentang isyu ini. Memang
tulisan ini nggak akan mengubah strategi major label untuk tidak
membuka divisi manajemen artis di dalam perusahaan mereka, toh
semuanya jadi keputusan bisnis mereka juga. It’s their damn business
afterall
Lagipula masih ada juga major label yang tidak
memberlakukan strategi dagang ini (paling tidak sementara ini),
misalnya seperti Aquarius Musikindo, Universal Music Indonesia.
Yah, minimal kita bisa mencegah regenerasi kebodohan dan
berlanjutnya proses pembodohan seperti ini sekarang juga.
Gue sangat berterimakasih kalo ada teman-teman yang mau memforward
atau menyebarluaskan tulisan ini agar dibaca lebih banyak artis-
artis baru yang berniat mempertaruhkan masa depan dan karir mereka
sebagai musisi. Jangan biarkan mereka dirampok!
Hope we could make real changes together.
For better, not worst….
NB :
Terima kasih atas infonya pak Wenz Rawk
Filed under: band, music, rock | 2 Comments »